Keistimewaan yg terselip ketika orang lain menganggapnya sebuah kelemahan

Banyak pelajaran yg bisa kita petik dari kehidupan sekitar kita. Baik itu yg kita alami sendiri, atau pun dgn melihat dan mendengar dari kehidupan org lain. Sesuatu itu seterusnya bisa berakhir menjadi perbincangan negatif yg berupa fitnah, gosip atau pun hasut, namun ada pula yg menjadi perbincangan positif berupa diskusi renungan atau pun nasehat-nasehat motivatif yg sangat baik untuk diambil pembelajaran hidup.

Entah ini akan menjadi positif atau pun negatif, namun saya mencoba berbagi renungan seperjalanan saya sehari tadi ketika pulang kerumah setelah kerja.

Sore tadi, tanpa sengaja saya melihat suatu kejadian biasa yg saya lihat namun baru sekali tadi saya menjadi tertarik untuk mengamatinya dengan jelas, Hal itu adalah sosok seorang bocah yg kalo dilihat dari postur tubuhnya kisarannya berumur 8 sampai 10 tahun yg sedang bekerja membantu bapaknya menjadi buruh batu pecah (batu yang biasanya dijadikan bahan dasar pondasi rumah).

Tubuhnya yang kecil terlihat menggenggam sebuah palu yg menurut saya adalah sebuah beban yg berat untuk dipergunakan bocah seumuran dia. Namun kenyataannya tidak, entah mungkin karena tlah terbiasa dengan berat palu tersebut maka seolah palu tersebut terlihat tidak menjadi beban berat untuk dia ketika bocah tersebut menggunakannya.

Lama saya mengamatinya dari jauh sampai waktu istrahat pun tiba, terlihat anak itu istrahat disebuah tempat yang agak rindang, duduk sambil meraih tempat air minum dengan segelas cangkir plastik ditangan kanannya.

Jaraknya tak jauh dari tempat saya duduk, jadi saya bisa melihat dengan jelas apa yg dilakukan bocah tersebut. Bocah itu duduk sambil melihat telapak tangannya. Satu hal yg membuat saya terkejut, ternyata tangan mungil bocah itu berdarah, terkelupas.

Terbayang betapa perih dan sakitnya tangan bocah tersebut.

Awalnya timbullah rasa benci saya kepada orang tua si bocah. Kenapa membiarkan anak sekecil itu ikut bekerja dengan pekerjaan keras seperti itu. Tapi perlahan pemikiran itu kalah dengan rasa haru sekaligus malu dalam diri.

Dulu, seumuran dengan bocah itu, saya tidak pernah sempat untuk berpikir bisa bekerja membantu orang tua. Yang saya mampu serta ketahui hanyalah meminta dan marah kalau keinginan saya tidak terpenuhi. Tapi tidak bocah ini,,,! Tidak beruntungkah nasib anak ini,,,? Saya rasa tidak,,! Bocah ini adalah seseorang yg beruntung,, bocah ini adalah bocah yg hebat,,! Karena diusianya saat ini, dia sudah mengerti dan mampu memahami betapa kerasnya kehidupan didunia ini, diusianya saat ini dia sudah lebih dulu mengerti dan memahami seperti apa mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari, di usianya saat ini dia sudah terbentuk sebagai pejuang sejati untuk kehidupan yg sedemikian keras saat ini, tidak seperti bocah lain atau seperti saya dulu seumur dia, yg masih merengek untuk berbelas kasih kepada orang tua, tanpa pernah mengerti/memahami seperti apa susahnya mencari nafkah dan menjalani kehidupan.

Secara tidak langsung Tuhan sudah mempermalukan kepuasan hidup saya selama ini, Tuhan sudah membuka mata saya untuk bisa melihat kenyataan sisi keras kehidupan yg selama ini hampir tidak pernah saya renungi dikarenakan kemanjaan terhadap kenikmatan yg jarang saya syukuri dan justru lebih sering menjadi keluhan.

Senyum bocah kecil bertangan mungil yg lepuh dan penuh luka, sudah meruntuhkan angkuhnya hati akan ketidak puasan diri atas karunia Tuhan selama ini. Sungguh,,! Tak semua anak bisa menjadi anak yang tangguh seperti bocah ini. Hampir sebagian lebih anak seumuran bocah ini terdidik dengan jiwa cengeng dan pemalas, seterusnya lemah dan hidup menjadi manusia yg suka mengeluh. Mungkin seperti itu pula saya sampai detik ini.

Ditelevisi pemandangan ini mungkin pernah kita lihat, namun, disitu justru menonjolkan kekurangan mereka, seolah-olah mereka adalah komunitas yg tidak beruntung hidupnya, pada tidak pada keistimewaan jiwa mereka yg berhati dan bermental baja dalam menjalani hidup. Dan hal ini tidak pantas dikasihani,,,! Melainkan menimbulkan perasaan malu dalam diri. Jangan Lihat mereka tidur dengan alas seadanya, tapi amati begitu nyenyaknya mereka tidur dalam kondisi seperti itu, jangan lihat seperti apa yang mereka makan, tapi amati betapa lahapnya mereka makan dengan bingkai senyum syukur meski dengan menu yg sangat-sangat sederhana, sungguh hal itu adalah sesuatu yang luar biasa. Sedangkan kita,,? Hidup berkecukupan, namun apakah itu mampu selalu untuk kita syukuri dan mampu bahagia dengan semua itu,,?

Kawan,,, mungkin postingan ini hanya sebuah tempelan kata yg tak beraturan, tapi tujuan saya ketika menulisnya adalah sebuah renungan untuk saya bahwa selalu ada sisi hidup yg menjadi titik gelap pandangan hidup kita, dan untuk meneranginya, adalah merenungkan seandainya kita menjadi mereka. Mampukah kita seperti mereka,,,?

Siapapun dirimu, seperti apapun kehidupanmu, adalah sebuah kekayaan dan kebahagiaan bila kau memiliki semangat dan rasa syukur yg tinggi,,! Namun tidak pada mereka yg hidupnya terlalui dengan mengeluh dan sibuk mengkasihani diri sendiri untuk mendapatkan iba dari orang lain. Merekalah yang sebenar-benarnya fakir rohani dan jasmani yg selalu menemukan keluhan ditiap apa yg mereka lakukan dan ditiap hal yg mereka dapatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: