TUHAN, AKU & TAKDIR (Cerita Bag.1)

Disebuah perkampungan bernama “MASA LALU” disitulah aku tinggal,,, tempat yg hening nan sepi, dimana tak ada pertempuran akal dan hiruk-pikuk “REVOLUSI ADAB”,, inilah tempatku, tempat yg “diam”,,, tempat yg membuatku betah,,,

Namun pada suatu waktu datanglah seorang “PECINTA” yg juga adalah “MUSAFIR MIMPI”, slalu berkunjung ditempat dimana ada “NAFAS KEHIDUPAN”,, Sungguh dia terlihat anggun, bergaun “RINDU”, Berambut panjang yg hampir menutupi lesung pipinya dan mata indahnya yg laksana Berlian mahakarya pemahat ternama yg menciptanya dengan penuh perasaan & kejelian pada tiap detailnya,,! Dia datang menghampiriku yg lama terdiam digubuk “PERASAAN” yg hampir tak terlihat seperti sebuah tempat tinggal, namun bagiku inilah istanaku dan aku adalah RAJA-nya,,, Dia mendekat sambil berkata “mengapa kau begitu betah diperkampungan ini, mengapa tak berpikir untuk pindah ke kota “MASA DEPAN”,,,? Disana tak ada hening, disana tak ada sepi,,,!”, kubiarkan suasana sejenak hening, sampai semilir angin jelas terdengar, ciptakan sebuah romansa yang kira-kira sering dirasakan oleh sepasang kekasih yang lama terpisah, Sembari menatap langit akupun menjawab “disini aku merasa nyaman, aku bisa beridealis, bisa merdeka dengan perasaanku, suaraku bisa terdengar karena tak ada hiruk pikuk dialog “REVOLUSI ADAB” oleh politikus yg merasa dirinya “NABI”,,,,”.

Suasana pun hening lagi, Diapun maju selangkah kedepan, hampir 5 langkah tepat dihadapanku, hingga wajahnya jelas terlihat, dan wangi tubuhnya jelas tercium,, seperti aroma surga,, yg pernah kucium diperkampungan “MIMPI”,, kurang lebih 1000 Mil jaraknya dari tempat aku tinggal saat ini,,, Matanya terus menatapku, namun aku hanya mampu melihat sepintas waktu, ada kekerdilan hati bila ku menatap mata itu, mungkin dia menyadari, ada sosok rapuh yang sedang berdiri dihadapannya, Sembari tersenyum Dia berkata,, “bagimu hening dan sepi adalah itu indah,, namun bagiku Hiruk pikuk para pendebat “REVOLUSI ADAB” adalah sebuah nyanyian hidup, yg mereka suarakan untuk menghapus hening dan sepi yg sebenarnya juga mereka rasakan, sebelum pergi aku ingin sampaikan, bahwa mereka sebenarnya adalah masyarakat perkampungan “MASA LALU” juga, jauh sebelum kau lahir mereka pindah ke kota “MASA DEPAN”, Kota dimana kau dulunya dilahirkan,, pada dasarnya kau bukannya betah disini,, TAPI KAU HANYA MERASA ASING DITEMPAT LAHIRMU SENDIRI DAN LARI KETEMPAT HENING DAN SEPI INI,, SADARILAH,, KAU HANYA SENDIRI DISINI,,,”. Tuhan perasaan apa ini,,,?? Perlahan akalku mengiyakan, namun, tetap ada bantahan nurani yang selalu mementahkan.

Disaat ku memikirkan kata-katanya tadi, perlahan kulihat dia membalikkan tubuhnya, berjalan kearah berlawanan dari tempatku terpatung berdiri, dia menjauh, kian terlihat jauh, sampai akhirnya tak terlihat lagi. (bersambung….)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: