Tarian Onak duri, membatin & membelah Hati (Rindu Cahaya)

Ku sadari aku berdiri diatas kefanaan, Tarianku menggeluti khidmat tiap-tiap tumpukan onak duri, seringnya kaki memerah darah & berjerit risau menyertai hampir tiap hela nafas menyambut luka baru yang pedih..! Sebuah sakit yang perih, mencumbui hampir tiap langkah kaki yang ku temui..

Ku tengadahkan wajah, mengarah mesra kelangit tahta sang kuasa, ada yang hampir terlupa dan harus ku dapatkan… Ada selisih antara nurani & akalku

Mungkinkah terlambat..?

Ku kejar cahaya sebelum terbenam berakhirnya hari, lambaian mentari seakan mencoba mengarahkanku ke peluk kasihnya..! Tangan menggapai namun tak sampai,,,! Tuhan..!! Tundalah dulu waktu yang ada… Jangan tinggalkan aku sebagai makhluk penghiba…

Wahai diriku,, seharusnya ku miliki sepasang sayap untuk menuju padamu,,! Sore itu, sore yang tak biasa.. Waktu ketika ku berpisah dari sebuah warna…! Hitam, kelam, suram, dalam, karam, jiwaku seakan tenggelam dalam sesal melaut samudera,,!

Wahai kau yang maha kasih.. Yang tak memerlukan budi atas segala indahnya mimpi..! Sejauh apa lagi ku telusuri rindumu..? Waktu terlalu cepat, senja terlalu singkat, sedang ku sadari, dahagaku tak sampai, dan separuh pun tak dapat ku penuhi…

Aaaahhh.. Sore itu, burung-burung sedang bernyanyi, menghibur hati yang ingin sendiri,,! Aku pun kembali menari.. Dalam lingkar TUHAN, aku, dan bumi…! Terluka lagi.. Berdarah lagi.. memasrah diri menapaki onak duri kefanaan duniawi..! Akalku kian telanjang, dan nurani diam dalam mengenang,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: